Sabtu, 24 Januari 2015

ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN


 A.     Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia . Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi. 

Syarat-syarat ilmu :
 Berbeda dengan
 pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa  penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyarata ilmiahsesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu. 

 1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat  bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek  penunjang penelitian.

2.      Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya  penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk
menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah. 

3.      Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

4.      Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

B.     Teknologi
Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan  barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh  penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri. Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. namun, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri. 

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari  pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah. Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu : 

1.      Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris:  neutral technological progress) Terjadi bila tingkat pengeluaran (output)  lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.

2.      Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris:  labor-saving technological  progress) Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.

3.      Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris:  capital-saving technological  progress) Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya. Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara  berkembang. Di lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara  berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak  investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.

C.      Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini besar perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya. Keadaan demikian tidak luput dari falsafah pembangunannya itu sendiri, dalam menentukan pilihan antara orientasi produksi dengan motif ekonomi yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusiaan yang terkadang harus dibayar lebih mahal.
       Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma etika (Jujun S. Suriasumantri, 1984). Ilmu dipandang sebagai proses karena ilmu merupakan hasil darikegiatan sosial, yang berusaha memahami alam, manusia dan perilakunya baik secara individu atau kelompok. Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran (rasio) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya. Oleh karena itu ilmu dapat diuji kebenarannya, sehingga tidak mustahil suatu teori yang sudah mapan suatu saat dapat ditumbangkan oleh teori lain. Ilmu sebagai ilmu, karena ilmu selain universal, komunal, juga alat menyakinkan sekaligus dapat skeptis, tidak begitu saja mudah menerima kebenaran.
     IImu adalah bukan tujuan tetapi sebagai alat atau sarana dalam rangka meningkatkan taraf hidup manusia. dengan memperhatikan dan mengutamakan kodrat dan martabat manusia serta menjaga kelestarian lingkungan alam. 
Sikap ilmuwan dibagi menjadi dua golongan :
1.            Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersifat netral
terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun secara aksiologis, soal
penggunaannya terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan
untuk tujuan baik atau tujuan buruk. Golongan ini berasumsi bahwa
kebenaran itu dijunjung tinggi sebagai nilai, sehingga nilai-nilai
kemanusiaan Iainnya dikorbankan demi teknologi.
2.            Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral
hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam
penggunaan dan penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asas moral
atau nilai-nilai. golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui
ekses-ekses yang terjadi apabiia ilmu dan teknologi disaIahgunakan.
Nampaknya iImuwan goiongan kedua yang patut kita masyarakatkan
sikapnya sehingga ilmuwan terbebas dari kecenderungan “pelacuran”
dibidang ilmu dan teknologi, dengan mengorbankan nilai-nilai
kemanusiaan.
Upaya untuk menjinakkan teknologi diantaranya :
1.            Mempertimbangkan atau kalau perlu mengganti kriteria utama dalam
menolak atau menerapkan suatu inovasi teknologi yang didasarkan pada
keuntungan ekonomis atau sumbangannya kepada pertumbuhan ekonomi.
2.            Pada tingkat konsekuensi sosial, penerapan teknologi harus merupakan
hasil kesepakatan ilmuan sosial dari berbagai disiplin ilmu.

D.     Kemiskinan Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. dikatakan berada di bawah garis
kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dB. (Emil Salim, Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai
inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental
dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu :
1.            Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan,
2.            Posisi manusia dalam lingkungan sekitar, dan
3.            Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.

Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.            Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan,
dsb.;
2.            Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan
kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal
usaha:
3.            Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar
karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
4.            Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas self employed),
berusaha apa saja;
5.            Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai
keterampilan.
Pola relasi dalam struktur sosial ekonomi ini dapat diuraikan sebagai berikut :

·                     Pola relasi antara manusia (subjek) dengan sumber-sumber kemakmuran
ekonomi seperti alat-alat produksi, fasilitas-fasilitas negara, perbankan,
dan kekayaan sosial. Apakah ini dimiliki, disewa, bagi-hasil, gampang
atau sulit bagi atau oleh subjek tersebut.
·                     Pola relasi antara subjek dengan hasil produksi. Ini menyangkut masalah
distribusi hasil, apakah memperoleh apa yang diperlukan sesuai dengan
kelayakan derajat hidup manusiawi.
·                     Pola relasi antara subjek atau komponen-komponen sosial-ekonomi dalam
keseluruhan mata rantai kegiatan dengan bantuan sistem produksi.
Dalam hal iniadalah mekanisme pasar, bagaimana posisi dan peranan
manusia sebagai subjek dalam berfungsinya mekanisme tersebut.

Kesimpulan : 
Jadi Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan  barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Sedangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini besar perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu, Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh.


Sumber :

Rabu, 24 Desember 2014

KONFLIK


KONFLIK

      A.     Pengertian konflik


Konflik berasal dari kata kerja latin configure, yang berarti saling memukul, yang dimaksud dengan konflik sosial adalah salah satu bentuk interaksi sosial antara satu pihak dengan pihak lain didalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam, menekan, hingga saling menghancurkan. Konflik sosial sesungguhnya merupakan suatu proses bertemunya dua pihak atau lebih yang mempunnyai kepentingan yang relative sama terhadap hal yang sifatnya terbatas. Dengan demikian, terjadilah persaingan hingga menimbulkan suatu benturan-benturan fisik baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Berikut ini beberapa pendapat ahli tentang pengertian konflik :

   §  Berstein: suatu pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah.
§  Dr. Robert MZ. Lawang: perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga menundukkan saingannya.
§  Drs. Ariyono Suyono: proses atau keadaan dimana dua pihak berusahamenggagalkan tercapainya tujuan masing-masing akibat adanya perbedaan pendapat ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.
§  James W. Vander Zanden: suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah yang bertujuan untuk menyisihkan lawan.
§  Soerjono Seokanto: proses memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan disertai ancaman/ kekerasan.
§  Kamus Besar Bahasa Indonesia: percecokan, perselisihan atau pertentangan
§  Sosiologis: proses antara 2 /lebih orang yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuat tidak berdaya.

 B.  Faktor-Faktor Penyebab Konflik
Konflik merupakan sebuah proses interaksi sosial manusia untuk mencapai tujuan dan cota-citanya. Oleh sebab itu, konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan sosial diantara individu yang terlibat dalam suatu interaksi sosial.

a. Faktor-Faktor Penyebab Konflik Secara Umum :

1.  Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Perbedaan kebiasaan dan perasaan yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2. Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.

 3.  Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Misalnya seseorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu produksi sehingga terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun, para pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak-haknya diabaikan sehingga perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu konflik. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak – pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.

 4.  Perubahan Sosial
Perubahan sosial dalam sebuah masyarakat yang terjadi terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan itu. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.


b.  Faktor-Faktor Penyebab Konflik di Indonesia

Dalam masyarakat Indonesia yang multikultur rawan terhadap terjadinya suatu konflik sosial, karena secara garis besar struktur sosial masyarakat Indonesia terbagi kedalam berbagai suku bangsa, agama, maupun golongan yang beragam. Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik pada masyarakat Indoenesia adalah sebagai berikut :

1)  Apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain, contohnya adalah konflik yang terjadi di Aceh dan Papua.
2) Terdapat persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup antara kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya konflik yang terjadi di Sambas
3) Terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya konflik yang terjadi di Sampit.
4) Terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya konflik antar suku di pedalaman Papua.

I.       Konflik yang sering terjadi di Indonesia:

             1.       Tawuran
Tawuran adalah bentrok antar golongan tertentu dengan golongan tertentu yang berbeda pendapat. Contohnya misalnya tawuran antar pelajar, tawuran antar warga, tawuran antar berbagai ormas dan sebagainya. Tawuran di timbulkan oleh berbagai hal misalnya karena hal sepele. Contohnya mein ejek-ejekan antar sekolah dan sekolah yang di ejek tidak terima karena telah di ejek. Misalnya juga sama seperti tawuran antar warga mereka berselisih dan pada akhirnya salah paham dan pada akhirnya tidak terima dan merasa di rugikan maka dengan sekejap timbul tawuran tersebut.

2.      Razia Satpol PP
Razia Satpol PP dilakukan untuk menertibkan bangunan liar yang di dirikan tanpa izin dan para PKL yang sembarangan berjualan. Trotoar  yang seharusnya untuk para pejalan kaki malah untuk berjualan dan menimbulkan macet ketika ada pembeli yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Para pedagang sering kali tidak terima oleh razia tersebut. Mereka salah tanggap dengan razia tersebut. Mereka langsung adu mulut dengan para petugas atau bahkan langsung adu otot. Orang yang telah membangun ruko-ruko yang telah menghabiskan biaya pembangunan yang banyak bahkan bisa langsung di rubuhkan atau di hancurkan karena tidak memiliki izin pembangunan. Merka tidak terima dan akhirnya adu mulut dan adu otot. Mereka beranggapan bahwa para Satpol PP ingin menang sendiri dan mereka merasa dirugikan oleh hal tersebut karena telah kehilangan mata pencarian dan tempat mereka untuk mereka tinggal.

3.      Kenaikan BBM Subsidi yang Salah Sasaran
Kenaikan BBM bersubsidi  yang di tetapkan pemerintah menjadi boomerang bagi masyarakat menengah kebawah. Karena pendapatan mereka yang pas-pasan di tambah lagi ongkos yang mahal. Hal ini juga di rasakan bukan hanya untuk para ayah tetapi juga para ibu rumah tangga karena kenaikan BBM kebutuhan juga makin meninggat dan makin mahal saja. Banyak ormas atau kelompok masyarakat nbahkan para mahasiswa mengeluhkan kenaikan BBM tersebut. Mereka yang mengeluhkan hanya memikirkan dampaknya sekarang tapi mungkin 10 tahun kedepan karena kenaikan BBM ini, Negara Indonesia menjadi Negara yang sejahtera. Di tambah lagi sekarang keputusan pemerintah untuk menghapus Premium. Masyarakat makin tidak terima saja dan mereka melakukan demo di berbagai daerah dan gedung-gedung pemerintahan.

II.       Solusi Untuk konfli di atas: 
1.       Tawuran
  •      Jangan salah paham dulu ketika ada seseorang atau kelompok berbicara
  •      Menyelesaikan dengan kepala dingin
  •     Tidak membuat suasana menjadi ricuh
  •      Jangan berbicara sembarangan


2.      Razia Satpol PP
  •       Untuk masyarakat seharusnya membuat surat izin dulu untuk mendirikan suatu tempat
  •      Jangan mementingkan urusannya sendiri
  •      Jika tidak ingin di kasari maka jangan bersikap kasar terhadap orang lain
  •       Jangan membangun di sembarang tempat karena itu bisa menimbulkan bencana bagi orang lain. Contoh: membangun bangunan di bawah kali/sungai, jika banjir maka efek yang di timbulkan itu bisa jdi bencana untuk oran banyak.


3.      Kenaikan BBM Subsidi yang Salah Sasaran
  •       Pemerintah harus bijaksana terhadap keputusannya
  •       Masyarakat menengah ke atas jangan menggunakan BBM bersubsidi
  •       Gaji/pendapatan para buruh di naikkan


Ini pendapat saya tentang konfik yang sering terjadi di Indonesia, mungkin masih banyak lagi konflik yang sering terjadi di Indonesia. Terima kasi yang telah membaca. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang.

Rabu, 19 November 2014

Individu, Keluarga dan Masyarakat


Tugas Ilmu Sosial Dasar (softskill)
Judul : Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Dosen : Faaiza Supandi Spsi

Disusun Oleh :
·         1. Delavega Hensam
·         2. Helmi Fajriyanto
·         3. Meylani Arif Muhaimah
·         4. Rina Melinda Siman
·         5. Rizky Setiadi


Individu, Keluarga dan Masyarakat


A. Pertumbuhan Individu

1) Pengertian Individu
Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam ilmu sosial, individu juga berarti bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil.

2) Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan proses kenaikan volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat kembali), dan terjadi karena adanya pertambahan sel dan pembesaran dari tiap-tiap sel. Pada proses pertumbuhan biasa disertai dengan terjadinya perubahan bentuk. Pertumbuhan juga dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif.

B. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Pertumbuhan Individu
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, diantaranya :
1) Faktor Biologis
2) Faktor geografis
3) Faktor kebudayaan khusus
a
C. Macam-Macam Fungsi Individu
Fungsi individu merupakan suatu fungsi yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan pribadi individu itu sendiri. Terdapat dua macam fungsi individu anatara lain: 

      1. Fungsi pemenuhan kebutuhan fisik
    Pada hakekatnya manusia adalah makhluk homofaber yang mempunyai kecakapan untuk apresiasi pada keindahan dan pemakaian benda-benda. Seni terapan memang mengacu pada pemuasan kebutuhan fisik sehingga segi kenyamanan menjadi hal penting.

      2. Fungsi pemenuhan kebutuhan emosional
    Seseorang memiliki sifat yang berbeda-beda dengan manusia lain. Pengalaman hidup seseorang   sangatlah mempengaruhi sisi emosional atau perasaannya. Sebagai contoh perasaan sedih, lelah, letih, gembira, iba, kasihan, benci, cinta, dll. Manusia dapat merasakan semua itu dikarenakan didalam dirinya terkandung dorongan emosional yang merupakan situasi kejiwaan pada setiap manusia normal. Untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia memerlukan dorongan dari luar dirinya yang bersifat menyenangkan, memuaskan kebutuhan batinnya. 


      D.  Fungsi Keluarga


       1) Pengertian Fungsi Keluarga
           Fungsi keluarga merupakan suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan atau dikerjakan di dalam/oleh keluarga tersebut. 

      2) Macam-Macam Fungsi Keluarga

            a.   Fungsi Pendidikan
      Dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.

            b.   Fungsi Sosialisasi anak
      Dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.

           c.  Fungsi Perlindungan
     Dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.

          d.   Fungsi Perasaan
    Dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

      e.   Fungsi agama
   Dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.

      f.   Fungsi ekonomi
      Dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.

      g.   Fungsi Rekreatif
      Dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.

      h.   Fungsi Biologis
    Dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

      E Macam-Macam Fungsi Masyarakat
      Masyarakat suatu tipe sistem sosial dapat dianalisis dari empat fungsinya yang diperlukanyakni:

      1.   Fungsi pemelihara pola
      Fungsi ini berkaitan dengan hubungan antara masyarakat sebagai suatu sistem sosial dengan subsistem kultural. Fungsi ini mempertahankan prinsip-prinsip tertinggi masyarakat sambil menyediakan dasar dalam berperilaku menuju realitas yang tinggi.

      2.   Fungsi interaksi
    Fungsi ini mencakup koordinasi yang diperlukan antara unit-unit yang menjadi bagian dari suatu sistem sosial. Khususnya yang berkaitan dengan kontribusi unit-unit pada organisasi dan fungsinya unit-unit terhadap keseluruhan sistem.

      3.  Fungsi untuk tujuan pencapaian tujuan
      Fungsi ini mengatur hubungan antar masyarakat sebagai sistem sosial dengan subtansi kepribadian. Fungsi ini tercermin dalam penyusunan skala prioritas dari segala tujuan yang hendak dicapai dan menentukan bagaimana suatu sistem mobilitas sumber daya serta tenaga yang bersedia untuk mencapai tujuan tersebut.

      4. Fungsi adaptasi
      Menyangkut hubungan antara masyarakat dengan sistem sosial dengan subsistem organisasi tindakan dengan alam psiko-organik. Secara umum fungsiini menyangkut hubungan kemampuan masyarakat menyesuaikan diri terhadap lingkungan hidup.

     F.  Pengertian 2 Golongan Masyarakat

      1. Masyarakat Non Industri
         Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri digolongkan menjadi dua :
      a. Kelompok primer
      Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Biasa disebut juga dengan kelompok “face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab.

      b. Kelompok Sekunder 
      Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh sebab itu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antaranggota kelompok diluar atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, Obyektif.

      2. Masyarakat Industri
      Masyarakat yang pembagian kerjanya bertambah kompleks, suatu tanda  bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal.pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu. Contohnya tukang sepeda, tukang sandal, tukang bubur, dsb.

      G. Hubungan Antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat 
      
      1) Makna Individu
      Kita sebagai manusia disebut juga dengan makhluk individu karena kitasebagai manusia tidak bisa dibagi-bagi anatara jiwa dan raga kita, jadi seluruh jiwa dan raga kitamenyatu menjadi satu-kesatuan. Dan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), makna individu ialah pribadi yang hidup berdiri sendiri.

2) Makna Keluarga
Keluarga adalah suatu kelompok didalam kehidupan bermasyarakat. Menurut kamus besar bahasa
Indonesia (KBBI), keluarga ialah seisi rumah yang terdiri dari bapak,ibu, beserta anak-anaknya.
Makna keluarga mempunyai sifat-sifat tertentu dalam satuan masyarakat,yaitu:

1.   Hubungan suami-istri.
2.   Hubungan perkawinan suami-istri harus diadakan dan dipelihara.
3.  Menyusun nama-nama dan mencari istilah-istilah serta menghitung keturunan.
4.   Hak dan kewajiban para anggota keluarga.
5.  Pada umumnya keluarga tinggal dalam satu rumah bersama.

3) Makna Masyarakat
Makna masyarakat dalam kamus besar bahasa Indonesia ialah sejumlah manusiaterikat oleh
suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

  Kesimpulan Hubungan antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Jadi, hubungan antara individu, keluarga dan masyarakat ialah seorang/sejumlah manusia yang
jiwa dan raga tidak dapat dibagi-bagi dan terikat oleh suatu kebudayaan adat istiadat yang sama
dalam berkehidupan sosialisasi bermasyarakat.

H. Urbanisasi

1) Pengertian Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang
cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota
akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah
peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan
pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain
sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Berbeda dengan
perspektif ilmu kependudukan, definisi urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah
perkotaan. Perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi. Perpindahan
itu sendiri dikategorikan menjadi 2 macam: 

      a.    Migrasi penduduk
Merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan tujuan untuk tinggal menetap di kota.

      b.    Mobilitas penduduk
Merupakan perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak menetap. Untuk
mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kotadari desa, seseorang biasanya
harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi, media massa, impian
pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya. Pengaruh tersebut bisa dalam bentuk
sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam
bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik.

2) Proses Terjadinya Urbanisasi
Proses terjadinya urbanisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
    -  Kehidupan kota yang lebih modern.
    -  Sarana dan prasarana kota lebih lengkap.
    -  Banyaknya lapangan pekerjaan di kota.
    -  Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas.

b. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
    -  Lahan pertanian semakin sempit.
    -  Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya.
    -  Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa.
    -  Terbatasnya sarana dan prasarana di desa.
    -  Diusir dari desa asal.
    -  Memiliki impian kuat menjadi orang kaya.

c. Keuntungan Adanya Urbanisasi
      -  Memoderenisasikan warga desa.
    -  Menambah pengetahuan warga desa.
    -  Menjalin kerja sama yang baik antara warga suatu daerah.
    -  Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa.

d.  Akibat Adanya Urbanisasi
     -  Terbentuknya suburb (tempat-tempat pemukiman baru di pinggiran kota.
     -  Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan    
   tetap.
     -  Masalahan perumahan yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
     -  Lingkungan hidup tidak sehat, menimbulkan kerawanan sosial dan kriminal.

Analisa

      Dari pernyataan yang telah diuraikan diatas, dapat kita ketahui bahwa manusia sebagai makhluk individu, keluarga, dan masyarakat. Oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok atau berorganisasi dan membutuhkan orang lain. Kita tahu dan menyadari bahwa manusia sebagai individu dan makhluk sosial serta memahami tugas dan kewajibannya dalam setiap tatanan kehidupan berkelompok dan dalam struktur dan sistem sosial yang ada.

Kesimpulan



Dari seluruh uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa individu mempunyai makna langsung apabila 
konteks situasional adalah keluarga atau lembaga sosial. Sedangkan individu dalam konteks 
lingkungan sosial yang lebih besar seperti masyarakat, posisi peranannya semakin abstrak. 

Saran

           Dalam bermasyarakat ciptakanlah sikap saling tolong – menolong dalam hal kebajikan, agar
terciptanya sikap kekeluargaan dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Harus ada sikap toleransi terhadap sesama agar tercipta lingkungan yang nyaman dan tidak terjadi kesenjangan sosial. dan juga harus menjaga sikap dalam bermasyarakat untuk menjaga rasa kekeluargaan di lingkungan sekitar dan tidak memunculkan masalah karena tidak bisa menjaga sikap dalam bersosialisasi.